Hanya sekedar sharing perubahan persepsi saya mengenai beasiswa dari luar negeri.
Awal Persepsi: Negara maju yang sangat dermawan
Saya awalnya berpikir betapa generousnya negara maju yang memberikan beasiswa pada negara berkembang cuma - cuma alias tanpa ikatan. Pertama saya dapat beasiswa dari pemerintah australia. Kalau dihitung dengan biaya kuliah, biaya hidup, tiket pesawat, kursus bahasa di Bali untuk s2 mereka membelanjakan dana skitar 200 - 300 juta rupiah. Suatu nilai yg cukup besar apalagi untuk program doktornya. Terlebih lagi tiap tahun mereka mengalokasikan 300 buah beasiswa untuk putra - putri bangsa. Jumlah yg terbesar dari seluruh negara yg menerima beasiswa pemerintah Australia.
Tiap bulan karena disana beasiswa cukup besar bisa menyisihkan 5-7 juta pada tahun 2005-2007, apalagi kalau mau kerja sambilan wah tambah banyak tabungannya. Denger - denger ada pasangan suami istri yg bisa mengumpulkan 1M dibawa ke Indonesia dalam waktu 3 tahun slama sang istri kuliah phd. Belum lagi tentunya ilmu dan pengalaman yg didapat yang tidak bisa dinilai dengan uang. Betul - betul mulia hati negara maju pemberi beasiswa pikir saya waktu itu.
Persepsi antara: Tidak ada sesuatu yang gratis.
Ditengah perjalanan, saya mulai mendapatkan fakta - fakta yang menimbulkan persepsi baru. Fakta pertama khusus Australia ternyata jumlah beasiswa yang mereka berikan hanya 1/4 dari pendapatan yg mereka peroleh dari pelajar - pelajar kita yg belajar di Australi dengan biaya pribadi. Tenyata banyak sekali pelajar yg bayar sendiri kuliah disana dan tentunya bisa dikatakan ternyata banyak juga orang kaya di Indonesia yg mampu menyekolahkan anaknya disana. Dan ternyata beasiswa itu bisa jadi sebagai media advertisement secar langsung ataupun tidak langsung, orng yg diberi beasiswa tentu akan merekomendasikan untuk belajar disana. Pernah saya tanyai seorang mahasiswa s1 yg kuliah disana dengan biaya sendiri saya tanya mengapa dia memilih di Australia dia menjawab karena pamannya pernah kuliah disana dan saya tau kalau pamannya dulu sekolah s3 disana karena dapat beasiswa.
Fakta yang lain lagi tentunya dana yang diberikan sebagai beasiswa sebagian besar akan berputar ke negara pemberi beasiswa. Uang kuliah juga yg menerima universitasnya, ekonomi juga akan bergerak dengan banyaknya mahasiswa yang membelanjakan uangnya untuk hidup sehari - hari. Bahkan pesawat yg dipakai untuk mengantar penerima beasiswa pun harus pesawat dari maskapai milik negaranya sendiri. Belum juga membuka lapangan kerja untuk orng2 yg mengurusi beasiswa tersebut. So sirkulasi uang beasiswa sebagian besar akan terjadi dinegaranya sendiri dan hanya prosentase kecil yg dibawa pulang para penerima beasiswanya.
So kemudian saya beralih untuk memilih persepsi jika beasiswa luarnegeri itu saling menguntungkan antara pihak donor dengan akseptor. Ya fifty - fifty lah.
Akhir persepsi: Negara maju mengambil untung besar dari pemberian beasiswa.
Ini adalah persepsi terakhir saya, mungkin kedepan bisa saja berubah. Kenapa menjadi demikian, karena mengingat penerima beasiswa adalah putra - putri terpilih bangsa. Sehingga pada dasarnya negara maju itu mendidik orang - orang pilihan. Yang nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah atas nama institusi di negara tersebut. Tidak mungkin kan dalam paper yang kita tulis kita menyebut nama negara kita. Pasti yg disebut adalah institusi tempat kita menuntut ilmu dengan alamat nya. Patent juga tentunya. Sehingga secara singkat mereka mendapatkan ilmuan - ilmuan potensial yang siap memajukan ilmu pengetahuan dinegaranya dan tentunya ikut mempertahankan posisi universitas2 ternama yang mereka miliki menjadi tetap di rangking atas.
Fenomena menarik terjadi di lab- lab Tokodai, yaitu semakin sedikitnya mahasiswa s2 dan s3 dari negerinya sendiri. Artinya roda riset di negeri ini digerakkan oleh mahasiswa-mahasiswa asing khususnya dari negara - negara penerima beasiswa. Sama halnya dengan di Australia yg didominasi oleh mahasiswa asia untuk program s3 dan s2 setahu saya di fakultas tekniknya. Sementar bule2nya sebagian besar merasa cukup dengan lulus s1 dan langsung cari kerja.
Terlebih lagi silahkan membaca crita terakhir perkembangan kasus David dibawah ini dari milis sebelah, maaf jika ada yg sudah baca. Saran saya jangan semua kita buka disini atas penemuan dan hasil penelitian. Simpan sebagian kunci hasil penelitian yang nantinya bisa kita share dan manfaatkan di negeri kita ketika kita sudah menyelesaikan pendidikan. Maaf jika ada yg kurang berkenan.
Salam,
Chandra
“They Want to Kill Me,” Teriak David, Darah Lalu BersimbahSketsa 18 Maret 2009
Pertemuan saya dengan ayah David, Hartono Wijaya, hari ini
mengindikasikan kuat pembunuhan. Riset David setelah terus saya
verifikasi menajam; indikasi “rebutan” hak penemuan “ komponen” obyek 3
dimensi yang bisa tayang di udara, bisa juga berguna bagi televisi masa
depan yang dapat ditonton kasat mata, tanpa kacamata khusus, laksana
riset yang pernah dilakukan Lucas Art & Co. Inilah Sketsa ke-3
sebagai seorang literary citizen reporter, indikasi tentang kasus
pembunuhan anak jenius, aset bangsa seharusnya.
SOSOK Hartono Wijaya berkacamata berkemeja lengen pendek bergaris biru
berpantolan biru tua. Alur benang celana bagian pisak depannya melicin.
Ada goresan seterikaan. Sepatu hitamnya bertelapak tipis. Penampilannya
sederhana saat saya temui. Hartono adalah ayah kandung David Hartanto,
mahasiswa Indonesia yang tewas di kampusnya di Nanyang Technology
University (NTU), Singapura, pada 2 Maret 2009 lalu.
“They want to kill me, they want to … kill me … they …”
Di menjelang ajal itu, David berteriak-teriak, “They want to kill me,”
lalu lari terbirit-birit, di lantai tempat ia berkonsultasi dengan
dosen pembimbing skripsinya, Prof., DR. Chan Yan Loek, 45 tahun, di
jurusan Electrical Engineering.
Tak ada bala bantuan.
David ketakutan.
Bayangan kematian di depan mata.
Malaikat maut seakan menabal ajal.
Kampus bergengsi di pagi cerah mulai ramai namun sepai.
Di 2 Maret 2009, sekitar pukul 10 waktu Singapura, suasana senyap,
ternyata telah mengantar tubuh David yang semula segar bugar lalu
kelengar. Indikasi lehernya ditebas, lalu badannya dibuang, dijatuhkan
dari lantai empat kampus, tempat segala ilmu dan kelimuan yang
mengdepankan integritas itu terjadi.
Seorang wanita, pekerja di NTU melihat sosok David lari terbirit-birit.
Ia mendengar jelas suara, “They wanto to kill me…” Tetapi ia tak
menyangka sebuah permintaan tolong melolong.
Ia mengira, agaknya, hanya sebuah adegan bercanda.
Wanita itu menceritakan detik mencekam itu kepada Hartono Wijaya, pada
2 Maret 2009 petang di Singapura, di saat sosoknya berkunjung ke kampus
NTU.
“Jika saya sebutkan nama wanita itu kepada Anda, akan dibunuh pula wanita itu kini,” ujar Hartono..
Indikasinya leher David ditebas pisau. Darah berceceran di tangga,
sebagaimana foto tetesan darah yang sedang dibersihkan yang telah
dikirim oleh seorang blogger di Singapura kepada saya. Foto itu kini
juga beredar di internet, Facebook, dan menjadi potongan video visual
yang dibuat oleh Christovita Wiloto.
Kalimat David lari terbirit-birit dengan nada ketakutan itu diceritakan Hartono dengan mata berkaca-kaca.
Saya lalu meminta tolong ayah David ini mendeskripsikan jasad anaknya ketika pertama kali melihat.
Ditemani oleh pihak Kedutaan Indonesia di Singapura pada sore, 2 Maret
2009, oleh pihak kepolisian ia tak diperbolehkan melihat jasad David.
Alasannya masih dalam otopsi.
“Keesokan harinya saya kembali.”
“Anak saya badannya dililit plastik, dibalut macam mumi plastik bening.”
“Tetapi saya melihat lehernya diplester, ada tiga baris plester.”
Demikian paparan Hartono kepada saya.
Saya berjumpa Hartono di sela-sela diskusi yang diadakan oleh
Christivita Wiloto, Selasa, 17 Maret 2009, pukul 13.30. Chris membuat
pertemuan diskusi sekalian memberikan penghargaan kepada penulis
resensi bukunya, Behind Indonesia Headlines, dalam sebuah diskusi
bertopik Membangun Citra Positif Indonesia Melalui Pemberitaan Media.
“Mengapa media di Indonesia hanya mengutip saja keterangan media di
Singapura, bahwa David memutus nadi, melompat bunuh diri,” ujar
Christovita membuka diskusi.
Bisa saya maklumi Hartono enggan menyebut wanita saksi mata itu.
Toh, empat hari setelah kematian David, sosok Zhou Zheng, peneliti,
yang di saat hari kematian David turut hadir di ruangan Prof Chap Yan
Loek, mati gantung diri.
Christovita membuat sebuah film presentasi bahan yang dikumpulkan di
forum Straits Time. Kumpulan foto kematian David; deretan kejanggalan,
seperti dua tulisan saya sebelumnya, sudah beredar di banyak milis,
blog , di Facebook, kini.
Di tanggal 3 Maret, kedua orang tua David di Singapura, diminta membuat
keputusan cepat, mengkremasi jasad atau membawa pulang ke Indonesia.
“Entah mengapa kala itu, dalam keadaan kalut kami memutuskan
mengizinkan kremasi,” kenang Hartono. Matanya berkaca. Seakan ada
penyesalan di sana.
Pertanyaannya lalu, mengapa David dipatheni?
SAYA teringat akan pergumulan saya di dunia visual.
Sejak berhenti jadi wartawan di Majalah SWA pada 1989, saya kemudian
membuka usaha sendiri, mulai dari graphic design hingga visual animasi.
Bahkan pada 1993, saya memutuskan penuh berusaha bergerak di bidang
animasi. Hingga 1996, usaha saya tutup, setelah menginvestasikan uang
Rp 1,2 miliar, sebuah angka besar bagi saya - - karena diperoleh dari
usaha sendiri dari nol. Saya membuat animasi 2D wayang, 3D wayang.
Dalam pergulatan yang membawa kerugian uang itu, mengantarkan saya
kepada pengetahun piranti lunak dan kemampuan visual. Saya mengenal
yang namanya aplikasi software animasi 3D; mulai dari Soft Image 3D,
2D, Toon, 3D Studio Max. Hardware mulai dari high end komputer Silicon
Graphic yang dipakai untuk menjalankan aplikasi editing macam Inferno -
- dulu di Jakarta dimiliki pertama oleh Post Office, perusahan post
production (rumah paska produksi) milik Peter F. Gontha.
Pada 1997-1998, saya sempat pula bekerja di VHQ,rumah paska produksi
visual milik Eric Lomas, orang Australia, warga Singapura. Ia juga
berpartner dengan Media Development Authority (MDA) semacam BUMN-nya
Singapura. Melalui MDA inilah, antara lain pemerintah Singapura memberi
kemudahan Disney, bahkan Lucas Film membuka usahanya di Singapura,
termasuk memberi iming-iming tax free
Lucas Art & Co, pernah melakukan riset tentang teknologi tiga
dimensi (3D) visual untuk kepentingan iklan, yang mampu tampil di
udara. Itu artinya, software animasi 3D, sederhananya, yang semula
hanya bisa membuat model dan tayang di komputer atau cuma direkam ke
format film dan video, lalu bisa ditayang di udara.
“Seingat saya pada 2006 Lucas Art & Co, sudah pernah
mempublikasikan rencana riset mereka soal itu, “ ujar Vidiyama Sonnekh,
praktisi teknologi informasi di Jakarta.
“Semacam hologram tiga dimensi yang bisa hidup di udara.”
“Dulu kami pernah mau menawarkan teknologi itu sebagai suplier ke
kelompok usaha Djarum yang sedang membangun Grand Indonesia. Cuma, kala
itu masih mahal, proyektornya saja satu US $ 20 juta,” kata Vidiyama.
Nah harga mahal itu pastilah berkait ke riset panjang dan mahal.
“Nah jika ada mahasiswa yang melakukan riset dan menemukan teknologi
yang lebih murah, logikanya, bisa merugikan industri?” ujar Vidi.
Judul penelitian David Hartanto: “Multiview acquisition from
multi-camera configuration for person adaptive 3D display 3D
Rekonstruski Dari CCTV, Syarat Utama Pendukung Intelligent Video
Surveillance System.”
Dari latar pemahaman animasi dan software, latar bekerja di perusahaan
post, lalu mengetahui riset Lucas Art dari Vidiyama, serta membaca
judul skripsi David, plus mendapatkan email dari blogger di Singapura,
juga mengakuan sosok gadis bernama Angel, mahasiswi yunior David di
NTU, maka saya menduga, bahwa penemuan David adalah: Kemampuan membuat
gambar visual tiga dimensi yang bisa tayang ke udara, khusus untuk
teknologi intelijen, di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk
ke ruang tertentu dipantau melalui kamera CCTV, gerakannya dipandu
pemindai gerak (motion capture); dapat mengirim data, suara, layaknya
manusia benaran yang sedang kita perintah bekarja..
Jika benar demikian, hebat. bukan.
Jika benar itu yang ditemukan, menurut Vidi, implementasinya bisa
macam-macam. “Kita bisa saja mengganti resepsionis di kantor dengan
orang 3D, bukan manusia utuh,” ujar Vidi.
Saya lalu menghayal membayangkan teknologi hologram dalam film Star
Trek, yang kini memang mulai banyak dilakukan riset visualnya oleh
Amerika Serikat. Riset itu juga berupaya mengembangkan televisi masa
depan, antara lain agar publik dapat menonton teve tiga dimensi di
udara tanpa lagi menggunakan kacamata khusus.
Ketika di risetnya 70%, sesuai penuturan Angel, sebagaimana sudah saya
tulis di Sketsa saya kedua soal David, profesor-nya tidak yakin David
mampu. “Jika kamu bisa, kamu akan dapat Nobel,” ujar Angel, mengutip
David. Gadis itu penasaran atas kesibukan David selama dua pekan
menyelesaikan tugas akhir yang tak mau diganggu. Ia lalu menmgunjungi
David dan mendapatkan keterangan demikian.
Pada pagi sebelum berangkat ke kampus, David sudah memeindahkan data
skripsinya ke flash-disk. Juga mebawa note book-nya dalam ransel, plus
bekal minuman air putih dalam botol besar.
“Sesuai dengan info kawan-kawanya di Singapura yang saya terima, hari
itu skripsinya sudah samapi 90% final,” ujar Hartono Wijaya, sang ayah.
Malang tak dapat diduga, kampus yang seharusnya menjadi wadah para
ilmuwan yang berdedikasi kepada keilmuan dan kejujuran, sebaliknya
justeru kini meninggalkan tanda tanya besar. Jika indikasi pembunuhan
memang kini menguat, riset jitu anak penggemar game dan visual itu pun
diduga kuat sesuatu yang sangat berarti.
Pertanyaaan, mengapa David harus mati?
Hingga di sini adalah tugas jurnalisme perlu melakukan verifikasi terus-menerus menjadi penting.
“Saya sangat menyayangkan mengapa KBRI kita di Singapura diam saja.
Tidak bersuara?” ujar Constant Marino Ponggawa, anggota komisi I DPR
RI, 2004-2009.
Ketika saya desak dengan pertanyaan, mengapa DPR tak menekan pemerintah
RI menyampaikan tekanan penyidikan tuntas terhadap pemerintah Singapura?
“Ini waktunya sedang tak pas. DPR sedang reses.” kata Constant.
Constant tak habis pikir, mengapa pemerintah diam, “Apa ini karena sosok yang tewas kalangan minoritas?”
Bila saya menjawab Constant, maka dengan berat hati saya tuliskan
kembali bahwa penghargaan negara terhadap nyawa memang rendah-rendah
saja. Saya mengulang menuliskan bahwa tiga pekan lalu seorang wanita
bernama Devi, di Pamulang, Banten, koma usai diperkosa, rumah sakit
tidak bisa menerima karena tak ada identitas dan kartu miskin, dirawat
sekenanya di pos ronda lima hari oleh warga, lalu mati begitu saja.
Negara?
Entah di mana!
Di banyak kasus menimpa TKI kita di luar negeri, dilecehkan, dihamili
bahkan mati, sebagaimana dipaparkan Christivita Wiloto, negara juga
seakan entah di mana?
Makanya jika seorang anak pandai, brilian pula otaknya, lalu kemudian
dibunuh, dan opini media sedunia dibangun bahwa, anak mahasiswa
Indonesia penusuk dosen?
Pembunuh!
“Maka celakalah kita,” ujar Christovita.
Di saat anggota DPR reses, di saat pejabat pemerintahan bercuti lalu
berkampanye, di saat para Caleg menghitung kocek, kematian satu nyawa,
bisa jadi terlupakan lagi oleh pengelola negara. Padahal di kematian
David, bisa jadi sesungguhnya menyangkut nama besar bangsa
diindikasikan dirusak, sekaligus “dihina”. Sudah sejak lama anak-anak
pintar negeri ini diimingi bea siswa, lalu setelah tamat otaknya guna
membangun bangsa orang.
Inilah tragedi di bangsa yang menghamburkan dana dalam lima tahun ini
mencapai Rp 1.000 triliun, untuk kepentingan Pemilu, Pilkada, Partai
dan pengeluaran perorangan partai, namun alpa akan sisi kemanusiaan
yang kian hari seharusnya: kian beradab.
“Sebagai orang tua, Pak Hartono tak mungkin meminta nyawa anaknya
kembali. Tetapi minimal ada pembuktian, bahwa anaknya mati bukan karena
menusuk dosen,” ujar Christovita. ***